Kualitas lingkungan hidup yang semakin menurun telah mengancam kelangsungan perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya sehingga perlu dilakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang sungguh - sungguh dan konsisten oleh semua pemangku kepentingan

Jumat, 21 Januari 2011

DAMPAK USAHA PETERNAKAN AYAM BROILER

Oleh: AGUS SUSILO (E2A010008)
ABSTRAK
Usaha peternakan ayam broiler mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan karena tingginya permintaan daging dan merupakan usaha yang sangat menguntungkan. Tetapi banyak peternak  masih mengabaikan masalah lingkungan, sehingga  masyarakat banyak yang mengeluhkan keberadaan usaha peternakan tersebut. Selain menimbulkan dampak pencemaran lingkungan seperti polusi udara (bau), banyaknya lalat yang berkeliaran di kandang dan lingkungan sekitarnya, dan  ketakutan masyarakat akan virus Avian Influenza atau flu burung (H5N1). Untuk mengatasi dampak usaha peternakan tersebut dapat dilakukan dengan cara pemberian zeolit pada pakan, penambahan  kapur pada kotoran dan penggunaan mikroba probiotik starbio pada pada pakan sehingga kadar amonia menurun sehingga dapat mengurangi bau yang tidak enak, untuk mengurangi keberadaan  lalat bisa dengan dengan menjaga kebersihan kandang, dan bisa diberantas dengan cara biologis, kimiawi,elektrik dan tehnik. Sedangkan untuk mencegah terjangkitnya virus flu burung bias dilakukan dengan mengurangi kontaminasi dengan unggas, alat dan bahan yang dicurigai tercemar virus, cuci tangan dengan sabun dan sikat, memakai masker, menggunakan pelindung wajah, pakaian pelindung, sarung tangan, dan sepatu boot.
Kata kunci: Broiler, bau, lalat, flu burung
Pendahuluan
Usaha peternakan ayam broiler mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan karena tingginya permintaan masyarakat akan daging. Uasaha peternakan ayam ini juga memberikan keuntungan yang tinggi dan bisa menjadi sumber pendapatan bagi peternak ayam broiler tersebut. Akan tetapi, peternak dalam menjalankan usahanya masih mengabaikan aspek-aspek  AMDAL.
AMDAL merupakan kajian dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, dibuat pada tahap perencanaan dan digunakan untuk pengambilan keputusan. Hal-hal yang dikaji dalam proses AMDAL antara lain: aspek fisik-kimia, ekologi, sosial-ekonomi, sosial budaya dan kesehatan masyarakat sebagai pelengkap studi kelayakan suatu rencana usaha dan atau kesehatan. Secara umum AMDAL bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan serta menekan pencemaran sehingga dampak negatifnya kecil (Setyowati, 2008).
Akhir-akhir ini usaha peternakan ayam dituding sebagai usaha yang ikut mencemari lingkungan (Fauziah, 2009). Menurut Setyowati (2008), banyaknya peternakan ayam yang berada di lingkungan masyarakat dirasakan mulai mengganggu oleh warga terutama peternakan ayam yang lokasinya dekat dengan pemukiman penduduk. Masyarakat banyak mengeluhkan dampak buruk dari kegiatan usaha peternakan ayam karena masih banyak peternak yang mengabaikan penanganan limbah dari usahanya. Limbah peternakan yang berupa feses, dan sisa pakan serta air dari pembersihan ternak dan kandang menimbulkan pencemaran lingkungan masyarakat di sekitar lokasi peternakan tersebut.
Dari uraian di atas, yang menjadi permasalahan adalah peternak dalam menjalankan usahanya masih mengabaikan aspek-aspek AMDAL, sehinggga menimbulkan dampak pencemran lingkungan. Untuk itu diperlukan upaya yang tepat untuk dapat mengatasi dampak pencemaran lingkungan dari usaha peternakan ayam broiler sehingga keberadaannya tidak mengganggu masyarakat. Tujuan penulisan ini adalah untuk menelaah dampak yang ditimbulkan dari usaha peternakan ayam boiler.
Dampak Usaha Peternakan Ayam Broiler
Polusi Udara (bau)
Polusi udara (bau) sangat mengganggu masyarakat yang ada di sekitar kandang peternakan ayam. Hal ini dikarenakan kurangnya manajemen dalam pengelolaan limbah dan lalu lintas ayam pasca panen. Sebagai contoh keberadaan Sembilan peternakan ayam yang berada di desa Bandar Jaya, Karang Patri, Sumber Sari, Sumber Reja, Karang Segar, dan desa Karang Harja di Kecamatan Pebayuran Kabupaten Bekasi sangat meresahkan warga karena limbah peternakan ayam tersebut menimbulkan bau yang tidak sedap (Anonimous, 2010).
Bau yang tidak sedap ini berasal dari kandungan gas amonia yang tinggi yang terbentuk dari penumpukan feses yang masih basah dalam kondisi anaerob. Gas amonia mempunyai pengaruh buruk terhadap manusia dan ternak, hal ini dapat di lihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Pengaruh gas amonia pada manusia dan ternak
Kadar ammonia (ppm)Gejala/pengaruh yang ditimbulkan pada manusia dan ternak
5Kadar paling rendah yang tercium baunya
6Mulai timbul iritasi pada mukosa mata dan saluran napas
11Penurunan produktivitas ayam
25Kadar maksimum yang dapat ditolerir selama 8 jam
35Kadar maksimum yang dapat ditolerir selama 10 jam
40Mulai menyebabkan sakit kepala, mual, hilang nafsu makan pada manusia
50Penurunan drastis produktivitas ayam dan terjadi pembengkakkan
Fabricious
Sumber: Setiawan (1996)
Ada banyak cara untuk mengatasi permasalahan bau yang ditimbulkan feses ayam broiler antara lain: penggunaan zeolit pada pakan, penambahan kapur pada kotoran dan penggunaan mikroba probiotik starbio pada pakan. Penggunaan zeolit lebih dari 4% dalam pakan, memberikan kemungkinan yang lebih besar dalam menurunkan pembentukan gas amonia, tetapi perlu diperhatikan efek samping dari penggunaan zeolit yang lebih tinggi (Fauziah, 2009). Penambahan kapur 1% dan 3% pada kotoran ayam dapat mengurangi gas amonia. Sedangkan penggunaan mikroba starbio sebanyak 0,025%-0,05% pada pakan dapat menurunkan kadar amonia dilingkungan kandang (Zainuddin et.al.,1994). Untuk menurunkan bau kotoran ayam dan mengurangi kepadatan lalat bisa menggunakan Effective Organisme Sucimanah (2002).
Permasalahan bau juga dapat diatasi dengan memanfaatkan limbah ternak berupa kotoran ayam yang dapat diolah menjadi biogas dan pupuk. Setiap usaha peternakan baik itu berupa sapi, ayam, kambing, kuda maupun babi akan menghasilkan kotoran yang memiliki kandungan unsur hara yang tinggi, sehingga banyak petani menggunakannya sebagai pupuk dasar. Kotoran yang dihasilkan oleh ternak ada dua macam yaitu pupuk kandang segar dan pupuk yang telah membusuk. Pupuk kandang segar adalah kotoran yang dikeluarkan oleh ternak sebagai sisa proses makanan yang disertai urine dan sisa-sisa makanan sedangkan pupuk kandang yang telah membusuk adalah pupuk kandang yang telah disimpan lama sehingga telah mengalami proses pembusukan atau penguraian oleh jasad renik (mikroorganisme) yang ada dalam permukaan tanah Wibowo (2010).
Pupuk kandang sangat bermanfaat bagi para petani karena memiki keunggulan: menambah zat atau unsur hara dalam tanah, mempertinggi kandungan humus di dalam tanah, mampu memperbaiki struktur tanah, dan mendorong atau memacu aktivitas kehidupan jasad renik dalam tanah.
Gasbio adalah campuran beberapa gas, tergolong bahan bakar gas yng merupakan hsil fermentasi dari bahan organik dalam kondisi anaerob, dan gas yang dominan adalah gas metan (CH4) dan gas karbondioksida (CO2). Produksi gas bio dapat digunakan untuk memasak, penerangan, menyetrika dan menjalankan lemari es. Pembentukan gasbio melalui tiga tahap dan pada situasi anaerob yaitu tahap hidrolisis, tahap pengasaman, dan tahap metanogenik. Pada tahap hidrolisis terjadi pelarutan bahan organik dan pencernakan bahan organic yang komplek menjadi sederhana, perubahan bentuk primer menjadi monomer. Pada tahap pengasaman komponen monomer akan menjadi bahan makanan bakteri pembentuk asam, sehingga menghasilakan asam asetat, propionate, format, laktat, alcohol dan sedikit butirat, gas karbondioksida, hydrogen dan amonoak (Anonimus, 2009).
Timbulnya Lalat yang Banyak
Lalat timbul karena kurangnya kebersihan kandang ayam. Lalat adalah jenis serangga yang berasal dari subordo Cyclorrapha ordo Diptera. Lalat ini dapat menimbulkan berbagai masalah seperti mediator perpindahan penyakit dari ayam yang sakit ke ayam yang sehat, mengganggu pekerja kandang, menurunkan produksi, mencairkan feses atau kotoran ayam yang berakibat meningkatnya kadar amonia dalam kandang (Dedy, 2010). Lalat juga meresahkan masyarakat yang tinggal di pemukiman yang dekat dengan peternakan  sehingga menimbulkan protes warga. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengurangi keberadaan lalat.
Ada banyak jenis lalat yang ada di permukaan bumi ini, tapi yang paling banyak merugikan manusia adalah jenis lalat rumah (musa domestika), lalat hijau (lucilia), lalat biru (calliphora vumituria), dan lalat latrine (fannia cunicularis). Selain mengganggu pemandangan lalat juga menimbulkan banyak berbagai penyakit misalnya; desentri, diare, thypoid dan colera. Penyebaran bibit dari berbagai penyakit itu hampir sama yaitu dibawa oleh lalat yang berasal dari  sampah, kotoran manusia atau hewan, terutama melalui bulu-bulu badannya, kaki dan bagian tubuh yang lain dari lalat lalu hinggap pada makanan manusia. Umumnya gejala dari penyakit ini adalah perut sakit, gangguan pada usus, demam tinggi, sakit kepala dan berak darah
Menurut Lili (2010), keberadaan lalat dapat diberantas dengan cara biologis, kimiawi, elektrik dan tekhnis. Secara biologis yaitu pemberantasan yang melibatkan makhluk lainnya yang merupakan predator lalat, contohnya kumbang parasit, lebah. Cara biologis lainnya dengan menggunakan hormone serangga sintesis yang dicampurkan ke dalam pakan ternak. Pemberantasan lalat secara kimiawi dengan menggunakan berbagai macam racun serangga yang efektif dalam membunuh lalat. Secara elektrik yaitu dengan menggunakan lampu neon yang memiliki daya tarik pandangan lalat, sehingga lalat yang mendekati lampu akan tersetrum aliran listrik dan mati. Sedangkan secara teknis yaitu menggunakan alat penangkap lalat yang paling sederhana hingga modern. Selain usaha tersebut di atas, menurut Dedy (2010) keberadaan lalat  juga dapat diatasi dengan memelihara kotoran ayam agar tetap kering dan secara mekanik yaitu dengan biosekuriti yang meliputi manajemen kebersihan (pembersihan dan disenfeksi kandang, terutama setelah panen) dan manajemen sampah (pembuangan litter, kotoran dan bangkai ayam).
Kekhawatiran menyebarnya virus flu burung Avian Infuenza (H5N1)
Perijinan pendirian peternakan akan semakin sulit diperoleh, karena takut akan terjangkitnya virus flu burung. Peternak dan masyarakat umum perlu diberikan pengarahan mengenai pedoman, pencegahan, pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan menular Influenza pada unggas. Sehingga dapat diambil tindakan secara dini bila dilaporkan adanya unggas yang mati akibat virus Avian Influenza (AI). Flu Burung (Avian Influenza) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang biasanya menjangkiti burung dan manusia (Anonimous,2008).
Menurut Pambudi (2010), gelala-gejala flu burung pada unggas adalah sebagai berikut; terjadi pembengkakan pada jengger, pial dan kelopak mata; warna kebiruan (sianosis)pada jengger dan pial; perdarahandi bawah kulit pada daerah kaki (tungkai, telapak kaki) dan bagian badanyang tidak berbulu sehingga tampak kemerah-merahan; keluar cairan (eksudat) dari hidung yang jernih dan kadang-kadang bercampur dengan darah; perdarahan titik (petechie) pada daerah dada, kaki dan telapak kaki; batuk bersin dan ada suara ngorok; kadang kala unggas mengalami diare; penurunan produksi telur atau berhenti berproduksi; dan penurunan nafsu makan.
Penyebab flu burung pada unggas adalah virus influenza tipe A. Virus ini termasuk family Orthomyxoviridae dari genus influenza. Pada manusia virus flu burung yang mempunyai tingkat kemampuan mematikannya tinggi atau High Pathogenic Avian influenza (HPAI)  H5N1. Penyakit ini diidentifikasi pertama kali di Itali lebih dari 100 tahun yang lalu. Di Indonesia kasus flu burung pada manusia terjadi pada januari 2004. Penyebaran kasus flu burung dapat dilihat pada table 2.
Tabel 2. Penyebaran Kasus Flu burung menurut WHO Sampai Juni 2007
NegaraJumlah KasusJumlah Kematian
Indonesia9979
Vietnam9342
Mesir3414
Thailand2517
Republik Rakyat Cina2516
Turki124
Azerbaijan85
Kamboja77
Irak32
Laos22
Nigeria11
Djibouti10
Jumlah310189
Secara umum gejala manusia yang terinfeksi flu burung ialah demam tinggi, keluhan pernafasan dan perut, nyeri otot, sakit tenggorokan, batuk dan sesak nafas. Menurut Anonimous (2009), apabila dalam 7 hari terakhir kontak kontak dengan unggas di peternakan terutama jika jika unggas tersebut sakit atau mati, dalam perkembangannya kondisi tubuh sangat cepat menurun drastis, bila tidak segera ditolong korban bisa meninggal karena komplikasi (gagal nafas dan gangguan fungsi tubuh lainnya).
Pengobatan manusia yang terinfeksi flu burung adalah dengan cara pengobatan antiviral yaitu dengan pemberian anti virus dan penurun panas. Di antara anti virus yang dapat dipakai adalah jenis yang menghambat replikasi dari neuramidaseantara lain Oseltamivir (Tamiflu) dan Zanamivir.
Selain usaha pengobatan diatas, menurut Namia (2010), usaha untuk pencegahan penyebaran virus  flu burung ini adalah dengan cara menjaga kesehatan makanan, cuci tangan dengan air sabun  setelah kontak dengan unggas dan produk unggas lainya baik sebelum makan maupun sesudah makan, beli unggas yang sehat, jangan makan darah mentah, daging atau telur unggas setengah matang, jangan menyembelih unggas sakit, jangan makan unggas mati atau sakit, hindari kontak dengan sumber yang terinfeksi, jangan biarkan anak-anak bermain di dekat kandang, jangan biarakan unggas berkeliaran di dalam rumah, gunakan masker atau sarung tangan saat kontak atau menyemblih unggas, kubur limbah unggas (bulu, jeroan dan darah). Jadi apabila ditemukan orang yang mengalami gejala-gejala yang sama seperti yang disebutkan di atas disarankan segera konsultasi dengan dokter.
Kesimpulan
Usaha peternakan ayam broiler selain mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan juga mempunyai dampak yang yang berbahaya bagi masyarakat di sekitar kandang. Hal ini karena usaha ayam dapat menimbulkan polusi udara (bau), banyaknya lalat yang berkeliaran di kandang dan sekitarnya, dan kekhawatiran masyarakat akan virus flu burung. Untuk itu diperlukan usaha yang tepat untuk mengatasi masalah dampak yang ditimbulkan yaitu dengan menjaga kebersihan, penambahan zeolit dan  srarbio probiotik pada pakan, penambahan kapur pada kotoran, memanfaatkan limbah peternakan , dan biosekurity yang baik.
Ucapan Terima Kasih
Setelah penyelesaian penulisan Telaah Pustaka ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1.      Prof. Ir. Urip Santoso, S. IKom., M.Sc., Ph.D selaku dosen pengasuh mata kuliah Penyajian Imiah yang telah memberikan saran dan masukan sehingga penulisan Telaah Pustaka ini selesai.
2.      Heri Damayanti S.Pt yang telah membantu dalam pencarian literatur sehingga penulisan Telaah Pustaka ini selesai.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 2009. Apakah flu burung. http://goldgamat.com/info-gamat/apakah -flu-burung.htm (15 september 2010).
Anonimous.2009.Flu burung pada manusia. http://feverclinic.wordpress.com/2009/ 07/31/flu-burung-pada-manusia (15 september 2010).
Anonimous. 2009. Pencemaran akibat limbah peternakan dan penanganannya.http://kalimantankita.blogspot.com/2009/05/pencemaran-akibat-limbah-peternakan.html (15 september 2010).
Anonimous. 2010. Serangan lalat dari peternakan ayam resahkan warga Pebayuran.http://www.pikiran-rakyat.com/node/112932 (15 september 2010).
Dedy. 2010. Mengenal parasit lalat. http://dedykoe.blogspot.com/2010/02/mengenal-parasit-lalat.html (15 september 2010).
Fauziah. 2009. Upaya pengelolaan lingkungan usaha peternakan ayam.http://uwityangyoyo.wordpress.com/2009/04/13/upaya-pengelolaan-lingkungan-usaha-peternakan-ayam/ (15 september 2010).
Irawan Agus, HSP.  1995. Menanggulangi Berbagai Penyakit Ayam, memberantas, mencegah, dan mengobati penyakit ayam. Aneka. Solo.
Lili, N.C. 2010. Memberantas lalat di peternakan ayam.http://groups.yahoo.com/group/lingkungan/message/12632 (4 September 2010)
Namia,I.,G.,G. 2010. Pencegahan flu burung (H5N1) pada unggas dan manusia.http://denpasarkota.go.id/main.php?act=1opi&xid=67 (4 September 20100.
Setiawan, H. 1996. Amonia sumber pencemaran yang meresahkan dalam: Infovet (Informasi Dunia Kesehatan Hewan) Edisi 037. Agustus Hal 12.
Setyowati, A. Lia. 2008. AMDAL dan peternakan ayam. http://liasetyowati.blogspot.com/2008/01/amdal-dan-peternakan-ayam.html   (15 September 2010).
Sihombing D,T,H.2002. Tehnik pengelolan limbah kegiatan usaha peternakan. Puasat penelitian lingkungan hidup. Institut Pertanian Bogor
Sucimanah. 2002. Efectivitas  effective mikroorganisme (EM) terhadap penurunan tingkat kepadatan lalat dan bau kotoran ayam di peternakan desa Kali Balik Kecamatan Limpung Kabupaten Batang.  http://fkm.undip.ac.id (15 September 2010)
Wibowo, A,S. 2010. Pemanfaatan limbah peternakan untuk kesuburan tanah.http://facebook.com/topic.php?vid=90951128900&topic=10844 (15 September 2010)
Zainuddin, D., K. Dwiyanto dan Suharto. 1994. Penggunaan probiotik starbio (mikroba starter) dalam ransum ayam pedaging terhadap produktivitas, nilai, ekonomis (IOFC) dan kadar amonia lingkungan kandang. Prosiding Pertemuan Nasional Pengolahan dan Komunikasi Hasil-Hasil Penelitian. Sub Balai Penelitian Ternak Klepu, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian hal.159-165. 1994.
Sumber : http://uwityangyoyo.wordpress.com/2010/09/28/dampak-usaha-peternakan-ayam-broiler/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar